Recent Updates
  • Bismillah

    TIGA CIRI SESEORANG DICINTAI ALLOH

    Sebagaimana kita ketahui bersama banyak yang mengaku bahwa dirinya dicintai dan mencintai Allah, namun mereka menyadari atau tidak bahwa sesungguhnya Allah tidak mencintainya, bahkan murka padanya. Salah satu contohnya adalah seseorang yang sering bermalas-malasan dan lalai melaksanakan kewajibannya kepada Allah.

    Lalu bagaimanakah agar kita dapat mengetahui ciri-ciri seorang hamba yang dicintai dan mencintai Allah swt ?

    Berikut ini ciri-ciri seorang manusia mencintai Allah ta’ala, diantaranya:

    1. Yang memiliki aqidah yang lurus kepada Allah ta’ala, serta tidak berbuat syirik:

    وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لل
    ه
    Artinya: “Dan orang-orang beriman sangat besar cintanya kepada Allah ta’ala” (QS Al-Baqarah: 165) .

    2. Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya,

    3. Tidak mencintai seseorang atau sesuatu kecuali karena Allah

    4. Dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilempar ke dalam neraka. Dalil dari ketiga hal ini adalah:

    “لا يجد طعم الإيمان إلا من كان فيه ثلاث أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله وأن يكره أن يرجع في الكفر بعد إذ أنقذه الله كما يكره أن يلقي في النار”
    Artinya: “Tidak akan mendapatkan rasa kenikmatan iman kecuali bila terdapat dalam dirinya tiga perkara: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, Tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah, Dan dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilempar ke dalam neraka”. (Muttafaq ‘Alaih).

    5. Mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam ucapan, dan amalan.

    6. Selalu ikhlas dan berusaha untuk ikhlas dalam ibadah dan ketaatan, dll.

    Adapun ciri-ciri dicintai Allah, diantaranya:

    1. Dikabulkan doanya dan dicintai oleh para makhluk Allah dibumi, sebagaimana dalam hadis: “Bila Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyeru Jibril: Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia, maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril menyeru penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah ia, maka merekapun mencintainya, lalu ditentukan baginya sikap menerima (dan cinta dari penduduk) dibumi”. (HR Bukhari).

    2. Selalu memberikannya taufiq dan rahmat untuk selalu terjauhkan dari fitnah dunia, harta dan ketenaran. Qatadah bin Nu’man berkata: “Bila Allah mencintai seseorang maka Dia menghalanginya dari (fitnah) dunia”. (HR Al-Hakim).

    3. Selalu bertaubat dan mensucikan diri dari dosa setiap kali terjatuh dalam dosa dan maksiat. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri”. (QS Al-Baqarah: 222)

    4. Selalu diuji oleh Allah dengan berbagai musibah padahal ia adalah orang yang shalih dan selalu bersabar atas musibah tersebut. Dalam hadis shahih: “Bila Allah mencintai suatu kaum maka Dia memberikan mereka ujian (dengan berbagai musibah)”. (HR Ahmad). Dll. Semoga kita adalah seorang hamba yang dicintai dan mencintai Allah. Shoum ramadlan kita hari ini diterima oleh Alloh dan dapat berkumpul bersama di Jannah. Aamiin

    🕋Barakallahufikum...
    Bismillah TIGA CIRI SESEORANG DICINTAI ALLOH Sebagaimana kita ketahui bersama banyak yang mengaku bahwa dirinya dicintai dan mencintai Allah, namun mereka menyadari atau tidak bahwa sesungguhnya Allah tidak mencintainya, bahkan murka padanya. Salah satu contohnya adalah seseorang yang sering bermalas-malasan dan lalai melaksanakan kewajibannya kepada Allah. Lalu bagaimanakah agar kita dapat mengetahui ciri-ciri seorang hamba yang dicintai dan mencintai Allah swt ? Berikut ini ciri-ciri seorang manusia mencintai Allah ta’ala, diantaranya: 1. Yang memiliki aqidah yang lurus kepada Allah ta’ala, serta tidak berbuat syirik: وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لل ه Artinya: “Dan orang-orang beriman sangat besar cintanya kepada Allah ta’ala” (QS Al-Baqarah: 165) . 2. Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, 3. Tidak mencintai seseorang atau sesuatu kecuali karena Allah 4. Dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilempar ke dalam neraka. Dalil dari ketiga hal ini adalah: “لا يجد طعم الإيمان إلا من كان فيه ثلاث أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله وأن يكره أن يرجع في الكفر بعد إذ أنقذه الله كما يكره أن يلقي في النار” Artinya: “Tidak akan mendapatkan rasa kenikmatan iman kecuali bila terdapat dalam dirinya tiga perkara: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, Tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah, Dan dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilempar ke dalam neraka”. (Muttafaq ‘Alaih). 5. Mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam ucapan, dan amalan. 6. Selalu ikhlas dan berusaha untuk ikhlas dalam ibadah dan ketaatan, dll. Adapun ciri-ciri dicintai Allah, diantaranya: 1. Dikabulkan doanya dan dicintai oleh para makhluk Allah dibumi, sebagaimana dalam hadis: “Bila Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyeru Jibril: Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia, maka Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril menyeru penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah ia, maka merekapun mencintainya, lalu ditentukan baginya sikap menerima (dan cinta dari penduduk) dibumi”. (HR Bukhari). 2. Selalu memberikannya taufiq dan rahmat untuk selalu terjauhkan dari fitnah dunia, harta dan ketenaran. Qatadah bin Nu’man berkata: “Bila Allah mencintai seseorang maka Dia menghalanginya dari (fitnah) dunia”. (HR Al-Hakim). 3. Selalu bertaubat dan mensucikan diri dari dosa setiap kali terjatuh dalam dosa dan maksiat. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri”. (QS Al-Baqarah: 222) 4. Selalu diuji oleh Allah dengan berbagai musibah padahal ia adalah orang yang shalih dan selalu bersabar atas musibah tersebut. Dalam hadis shahih: “Bila Allah mencintai suatu kaum maka Dia memberikan mereka ujian (dengan berbagai musibah)”. (HR Ahmad). Dll. Semoga kita adalah seorang hamba yang dicintai dan mencintai Allah. Shoum ramadlan kita hari ini diterima oleh Alloh dan dapat berkumpul bersama di Jannah. Aamiin 🕋Barakallahufikum...
    17 0 Comments 1 Shares
  • Bismillah

    DELAPAN MACAM HATI YANG BAIK DALAM AL QURAN

    Sebagaimana kita ketahui bersama dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Kalau daging itu baik, maka seluruh tubuhnya baik namun bila segumpal daging itu buruk maka seluruh tubuhnya buruk. Ketahuilah bahwa segumpal daging tadi adalah hati .
    Di dalam Al Qur'an kita bisa menemukan hati yang baik yaitu :

    *القلبُ السَّلِيْمْ :*
    *وهو مخلص لله وخالٍ من الكفر والنفاق والرذيلة* .
    *{ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّـهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ }*
    *﴿الشعراء: ٨٩﴾*

    1. Hati yang SALIM yang suci ....
    " Yaitu hati yang ikhlas dan kosong dari sifat kufur, munafik, dan kotoran. " (Asy-syuara : 89).

    *القلبُ المُنِيْبْ :*
    *وهو دائم الرجوع والتوبة إلى الله مقبل على طاعته* .
    *{ مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَـٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ } ﴿ق: ٣٣﴾*

    2. Hati yang MUNIB yang selalu inabah ...
    " Yaitu hati yang selalu kembali dan tazkiyah taubat kepada Allah dengan selalu mengerjakan perintahNya. " Alquran
    (Qaff : 33).

    *القلبُ المُخْبِتْ :*
    *الخاضع المطمئن الساكن* .
    *{فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ }*
    *﴿الحج: ٥٤﴾*

    3. Hati yang MUKHBIT yang tunduk ...
    " Yaitu hati yang selalu patuh merendah yang tenang dan lapang Sakinah ".
    (Al-hajj : 54).

    *القلبُ الوجِلْ :*
    *وهو الذي يخاف الله عز وجل ألاَّ يقبل منه العمل وألاَّ يُنَجَّى من عذاب ربِّه.*
    *{ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ }*
    *﴿المؤمنون: ٦٠﴾*

    4. Hati yang WAJAL yang bergetar ...
    " Yaitu hati yang selalu takut kalau tidak mengerjakan perintah dan tidak selamat dari azab ".
    Alquran (Al-mukminun : 60).

    *القلبُ التَّقِّيْ :*
    *وهو الذي يعظِّم شعائِر الله* .
    *{ ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّـهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ }*
    *﴿الحج: ٣٢*

    5. Hati yang TAQIY yang bertakwa ...
    " Yaitu hati yang selalu mengagungkan syiar Allah ".Alquran
    (Al-hajj : 32)

    *القلبُ المَهْدِي :*
    *الرَّاضي بقضاء الله والتَّسليم بأمره* .
    *{ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ }*
    *﴿التغابن: ١١﴾*

    6. Hati yang MAHDIY yang diberi hidayah ...
    " Yaitu hati yang selalu ridho dengan takdir Allah dan berserah atas perkara nya. " Alquran
    (At-taghabun : 11)

    *القلبُ المُطْمَئِنْ :*
    *يسكن بتوحيد الله وذكره*
    *{ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّـهِ }*
    *﴿الرعد: ٢٨﴾*

    7. Hati yang MUTHMAINNAH yang tenang ...
    " Yaitu hati yang selalu mantap dengan ke Esaan allah dan terus berdzikir ". Alquran
    (Ar-ra'ad : 28).

    *القلبُ الحَيَّ :*
    *قَلْب يَعْقِل مَا قَدْ سَمِعَ مِنْ الْأَحَادِيث الَّتِي ضَرَبَ اللَّه بِهَا مَنْ عَصَاهُ مِنْ الْأُمَم .*
    *{ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ }*
    *﴿ق: ٣٧*

    8. Hati yang HAYYU yang hidup ...
    " Yaitu hati yang kasyaf dari seluruh kejadian yang dialami oleh manusia " Alquran (Qaaff : 37).

    Semoga kita semua memiliki hati yang baik dan shoumnramadlan hari ini diterima oleh Alloh sehingga dimudahkan dapat berkumpul bersama di Jannah . Aamiin

    🕋Barakallahufikum...
    Bismillah DELAPAN MACAM HATI YANG BAIK DALAM AL QURAN Sebagaimana kita ketahui bersama dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Kalau daging itu baik, maka seluruh tubuhnya baik namun bila segumpal daging itu buruk maka seluruh tubuhnya buruk. Ketahuilah bahwa segumpal daging tadi adalah hati . Di dalam Al Qur'an kita bisa menemukan hati yang baik yaitu : *القلبُ السَّلِيْمْ :* *وهو مخلص لله وخالٍ من الكفر والنفاق والرذيلة* . *{ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّـهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ }* *﴿الشعراء: ٨٩﴾* 1. Hati yang SALIM yang suci .... " Yaitu hati yang ikhlas dan kosong dari sifat kufur, munafik, dan kotoran. " (Asy-syuara : 89). *القلبُ المُنِيْبْ :* *وهو دائم الرجوع والتوبة إلى الله مقبل على طاعته* . *{ مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَـٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ } ﴿ق: ٣٣﴾* 2. Hati yang MUNIB yang selalu inabah ... " Yaitu hati yang selalu kembali dan tazkiyah taubat kepada Allah dengan selalu mengerjakan perintahNya. " Alquran (Qaff : 33). *القلبُ المُخْبِتْ :* *الخاضع المطمئن الساكن* . *{فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ }* *﴿الحج: ٥٤﴾* 3. Hati yang MUKHBIT yang tunduk ... " Yaitu hati yang selalu patuh merendah yang tenang dan lapang Sakinah ". (Al-hajj : 54). *القلبُ الوجِلْ :* *وهو الذي يخاف الله عز وجل ألاَّ يقبل منه العمل وألاَّ يُنَجَّى من عذاب ربِّه.* *{ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ }* *﴿المؤمنون: ٦٠﴾* 4. Hati yang WAJAL yang bergetar ... " Yaitu hati yang selalu takut kalau tidak mengerjakan perintah dan tidak selamat dari azab ". Alquran (Al-mukminun : 60). *القلبُ التَّقِّيْ :* *وهو الذي يعظِّم شعائِر الله* . *{ ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّـهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ }* *﴿الحج: ٣٢* 5. Hati yang TAQIY yang bertakwa ... " Yaitu hati yang selalu mengagungkan syiar Allah ".Alquran (Al-hajj : 32) *القلبُ المَهْدِي :* *الرَّاضي بقضاء الله والتَّسليم بأمره* . *{ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّـهِ يَهْدِ قَلْبَهُ }* *﴿التغابن: ١١﴾* 6. Hati yang MAHDIY yang diberi hidayah ... " Yaitu hati yang selalu ridho dengan takdir Allah dan berserah atas perkara nya. " Alquran (At-taghabun : 11) *القلبُ المُطْمَئِنْ :* *يسكن بتوحيد الله وذكره* *{ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّـهِ }* *﴿الرعد: ٢٨﴾* 7. Hati yang MUTHMAINNAH yang tenang ... " Yaitu hati yang selalu mantap dengan ke Esaan allah dan terus berdzikir ". Alquran (Ar-ra'ad : 28). *القلبُ الحَيَّ :* *قَلْب يَعْقِل مَا قَدْ سَمِعَ مِنْ الْأَحَادِيث الَّتِي ضَرَبَ اللَّه بِهَا مَنْ عَصَاهُ مِنْ الْأُمَم .* *{ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ }* *﴿ق: ٣٧* 8. Hati yang HAYYU yang hidup ... " Yaitu hati yang kasyaf dari seluruh kejadian yang dialami oleh manusia " Alquran (Qaaff : 37). Semoga kita semua memiliki hati yang baik dan shoumnramadlan hari ini diterima oleh Alloh sehingga dimudahkan dapat berkumpul bersama di Jannah . Aamiin 🕋Barakallahufikum...
    21 0 Comments 0 Shares
  • Bismillah

    MENGHIDUPKAN MALAM-MALAM RAMADHAN
    (SHALATUL LAIL)

    ~
    Shalat Sunnah Lail ialah : Shalat-shalat Sunnah yang dikerjakan pada malam hari selain Ba'diyah 'Isya'.
    ~
    Adapun waktunya ialah : Sehabis shalat 'Isya' hingga akhir waktu 'Isya' sebelum masuk waktu Shubuh. Dan shalat Lail itu boleh dikerjakan sebelum maupun sesudah tidur.
    ~
    Macam-macamnya :
    ~
    A. Shalat Sunnah Tarawih. C. Shalat Sunnah Witir.
    ~
    B. Shalat Sunnah Tahajjud. D. Shalat Sunnah Iftitah.
    ~
    A. Shalat Tarawih
    ~
    Tarawih artinya relax, santai, istirahat.
    ~
    Ulama mengistilahkan Shalat Sunnah ini dengan Shalat Tarawih, karena melihat riwayat yang menjelaskan tentang bagaimana cara Nabi SAW melakukannya. Yaitu dengan perlahan-lahan/relax/santai serta diselingi dengan istirahat setiap habis salam, sebagaimana riwayat dibawah ini:
    ~
    Dari 'Aisyah RA, katanya :
    ~
    كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَرَوَّحُ فَاَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ. البيهقى 2: 497
    ~
    Adalah Rasulullah SAW shalat 4 rekaat dimalam hari. Kemudian beliau beristirahat/bertarawih lama sekali, sehingga aku merasa kasihan kepadanya. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 497]
    ~
    Waktu, Bilangan dan Cara Pelaksanaan shalat tarawih
    a. Waktunya.
    ~
    Setiap malam pada bulan Ramadlan, boleh dikerjakan diawwal malam atau di pertengahan maupun di akhirnya, baik sebelum tidur maupun sesudah tidur. Tegasnya, shalat tarawih adalah shalat malam di bulan Ramadlan.
    ~
    عَنْ اَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: صُمْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَمَضَانَ. فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ اْلخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ. ابو داود 2: 50، رقم: 1375
    ~
    Dari Abu Dzarr, ia berkata : Kami berpuasa Ramadlan bersama Rasulullah SAW. Beliau tidak shalat (malam) bersama kami sehingga tinggal tujuh hari dari bulan itu. Lalu beliau shalat bersama kami hingga lewat sepertiga malam, kemudian beliau tidak shalat malam bersama kami pada malam yang keenam. Tetapi beliau shalat malam bersama kami pada malam yang ke lima hingga lewat tengah malam. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 50, no. 1375]
    ~
    عَنْ عَبْدِ الرَّحْم?نِ بْنِ عَبْدِ اْلقَارِيِّ اَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ ابْنِ اْلخَطَّابِ رضي الله عنه لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ اِلىَ الْمَسْجِدِ فَاِذَا النَّاسُ اَوْزَاعٌ مُتَفَرّقُوْنَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: اِنِّى اَرَى لَوْ جَمَعْتُ ه?ؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ اَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى اُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ. ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً اُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ: نِعْمَ اْلبِدْعَةُ ه?ذِهِ، وَالَّتِى يَنَامُوْنَ عَنْهَا اَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُوْمُوْنَ يُرِيْدُ ا?خِرَ اللَّيْلِ. وَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ اَوَّلَهُ. البخارى 2: 252
    ~
    Dari Abdurrahman bin Abdul Qariyyi, bahwasanya ia berkata, "Saya pernah keluar ke masjid bersama Umar bin Khaththab RA. pada suatu malam di bulan Ramadlan, Tiba-tiba kami dapati orang-orang berkelompok-kelompok dan terpisah-pisah, ada yang shalat sendirian dan ada yang shalat dengan diikuti beberapa orang. Maka Umar berkata, "Saya berpendapat lebih baik mereka ini saya kumpulkan dengan diimami oleh seorang imam". Kemudian Umar ber'azam dan mengumpulkan mereka itu dengan diimami oleh Ubay bin Ka'ab. Kemudian saya keluar lagi bersama Umar pada malam yang lain, sedang orang-orang shalat dengan bermakmum kepada imam mereka. Umar berkata, "Sebaik-baik bid'ah adalah ini". Dan shalat yang mereka kerjakan pada akhir malam adalah lebih utama dari pada yang mereka kerjakan di awwal malam. Sedangkan orang-orang biasa mengerjakannya di awwal malam. [HR. Bukhari juz 2 : 252].
    ~
    b. Bilangan Raka'atnya
    ~
    Shalat Sunnah Tarawih ini, bilangan raka'at yang biasa dikerjakan oleh Nabi SAW adalah sebelas raka'at beserta witirnya. Dan sebanyak-banyaknya tak terbatas, berapa saja seseorang mampu melaksanakan-nya hingga habis waktu shalat sunnah tersebut, yaitu masuk waktu Shubuh.
    ~
    عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى مَا بَيْنَ اَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ اْلعِشَاءِ اِلىَ اْلفَجْرِ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ. مسلم 1: 508
    ~
    Dari 'Aisyah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW shalat antara beliau selesai dari shalat 'Isyak hingga fajar, 11 rekaat. Beliau salam antara tiap-tiap 2 rekaat, lalu berwitir 1 rekaat". [HR. Muslim juz 1, hal. 508].
    ~
    عَنْ اَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْم?نِ اَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رضي الله عنها كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ؟ فَقَالَتْ: مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا. البخارى 2: 47، مسلم 1: 509
    ~
    Dari Abu Salamah bin 'Abdur Rahman, bahwasanya ia pernah bertanya kepada 'Aisyah RA, "Bagaimanakah shalatnya Rasulullah SAW di bulan Ramadlan ?". Maka 'Aisyah berkata, "Rasulullah SAW tidak melebihkan di bulan Ramadlan maupun di luar Ramadlan atas sebelas rekaat. Beliau shalat empat rekaat, jangan kamu tanya bagusnya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rekaat, jangan kamu tanya bagusnya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga rekaat". [HR. Bukhari juz 2, hal. 47; Muslim juz 1, hal. 509]
    ~
    Keterangan :
    ~
    Maksud hadits tersebut, Nabi SAW shalat 2 raka'at salam, 2 raka'at salam lalu istirahat. Dilanjutkan lagi 2 raka'at salam, 2 raka'at salam lalu istirahat. Kemudian beliau shalat witir 3 reka'at.
    ~
    Namun hadits tersebut bukan merupakan batasan dari Nabi SAW, tetapi hanya menunjukkan bahwa biasanya Nabi SAW shalat malam sebelas raka'at.
    ~
    عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَشِيَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. مسلم 1: 516
    ~
    Dari Ibnu 'Umar bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Shalat malam itu 2 raka'at 2 raka'at. Maka apabila seseorang diantara kalian khawatir masuk Shubuh, hendaklah ia shalat witir 1 raka'at. Yang seraka'at itu mewitirkan untuk shalat yang telah ia kerjakan". [HR. Muslim juz 1, hal. 516]
    ~
    c. Cara Pelaksanaan
    ~
    1. Boleh dengan Jahr (suara nyaring) maupun Sirr (suara lembut) :
    ~
    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى قَيْسٍ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ: كَيْفَ كَانَ قِرَاءَةُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ؟ فَقَالَتْ: كُلُّ ذ?لِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ، رُبَمَا اَسَرَّ بِالْقِرَاءَةِ وَرُبَمَا جَهَرَ. فَقُلْتُ: اَلْحَمْدُ لِلّ?هِ الَّذِيْ جَعَلَ فِى اْلاَمْرِ سَعَةً. الترمذى 1: 278، رقم: 447، و قال: هذا حديث صحيح غريب
    ~
    Dari 'Abdullah bin Abu Qais, ia berkata : Aku bertanya kepada 'Aisyah RA, "Bagaimana bacaan Nabi SAW pada waktu (shalat) malam ?". Jawab 'Aisyah, "Semuanya itu pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, terkadang beliau membaca sirr (pelan) dan terkadang beliau membaca jahr (nyaring)". Maka aku berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kelonggaran dalam hal ini". [HR. Tirmidzi juz 1, hal. 278, no. 447, ia berkata : Ini hadits shahih, gharib]
    ~
    2. Boleh dikerjakan dengan berjama'ah maupun munfarid (sendirian)
    ~
    عَنْ عَائِشَةَ اُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ رضي الله عنها اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِى الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ. ثُمَّ صَلَّى مِنَ اْلقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ. ثُمَّ اجْتَمَعُوْا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ اَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ اِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ ص فَلَمَّا اَصْبَحَ قَالَ:قَدْ رَأَيْتُ الَّذِى صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِى مِنَ اْلخُرُوْجِ اِلَيْكُمْ اِلَّا اَنِّى خَشِيْتُ اَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَذ?لِكَ فِى رَمَضَانَ. البخارى 2: 44
    ~
    Dari 'Aisyah Ummul Mu’minin RA, bahwasanya pada suatu malam Rasulullah SAW shalat malam dimasjid, maka orang-orangpun turut shalat bersama beliau. Kemudian beliau shalat pula pada malam berikutnya, maka bertambah banyak orang yang mengikutinya. Kemudian malam ketiganya atau ke empatnya mereka telah berkumpul, tetapi beliau tidak datang. Maka setelah pagi harinya beliau berkata, "Sungguh saya telah mengetahui apa yang kalian lakukan tadi malam dan saya tidak berhalangan untuk datang kepada kalian, hanyasaja saya khawatir kalau shalat itu diwajibkan atas kalian". (Kata 'Aisyah), "Kejadian tersebut pada bulan Ramadlan". [HR. Bukhari juz 2, hal. 44]
    ~
    B. Shalat Sunnah Tahajjud
    Shalat Sunnah Tahajjud adalah : Shalat malam yang dikerjakan di luar bulan Ramadlan.
    ~
    Nama Tahajjud diambil dari firman Allah ayat 79 surat Al-Israa' :
    ~
    وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِه نَافِلَةً لَّكَ. الاسراء: 79
    ~
    Dan pada sebagian malam bershalat Tahajjudlah kamu sebagai suatu tambahan bagimu. [QS. Al-Israa' : 79]
    ~
    Jadi, shalat sunnah tarawih dan shalat sunnah tahajjud adalah sama. Kalau dikerjakan di bulan Ramadlan disebut shalat Tarawih, sedangkan jika dikerjakan di luar Ramadlan disebut shalat Tahajjud.
    ~
    C. Shalat Sunnah Witir
    Shalat sunnah witir ialah shalat sunnah lail yang dikerjakan dengan bilangan rakaat yang ganjil (witir = ganjil).
    ~
    عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَا اَهْلَ اْلقُرْا?نِ اَوْتِرُوْا فَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ اْلوِتْرَ. ابو داود 1: 61، رقم: 1416
    ~
    Dari 'Ali RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Wahai ahli Qur'an, berwitirlah kalian, karena sesungguhnya Allah itu witir/tunggal, Ia suka kepada (shalat) witir". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 61, no. 1416]
    ~
    Waktu, bilangan dan cara pelaksanaan shalat witir
    ~
    a. waktunya :
    ~
    Pada setiap malam, baik di dalam maupun diluar Ramadlan, boleh dikerjakan di awwal, pertengahan, ataupun diakhir malam, baik sebelum maupun sesudah tidur, kesemuanya itu pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW :
    ~
    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ اَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ اَوَّلِ اللَّيْلِ وَاَوْسَطِهِ وَا?خِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ اِلىَ السَّحَرِ. مسلم 1: 512
    ~
    Dari 'Aisyah RA, ia berkata, "Dalam seluruh (bagian) malam Rasulullah SAW pernah mengerjakan witir, di permulaan malam, dipertengahannya, dan di akhirnya, hingga witirnya selesai pada waktu sahur". [HR. Muslim juz 1, hal. 512]
    ~
    عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ خَافَ اَنْ لَا يَقُوْمَ مِنْ ا?خِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ اَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ اَنْ يَقُوْمَ ا?خِرَهُ فَلْيُوْتِرْ ا?خِرَ اللَّيْلِ. فَاِنَّ صَلَاةَ ا?خِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ وَذ?لِكَ اَفْضَلُ. مسلم 1: 520
    ~
    Dari Jabir RA, ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa khawatir tidak akan bangun pada akhir malam, maka bolehlah berwitir pada awwal malam. Dan barangsiapa berkeyakinan mampu bangun di akhir malam, maka hendaklah mengerjakan witir pada saat itu, karena shalat di akhir malam itu disaksikan dan yang demikian itu lebih utama". [HR. Muslim juz 1, hal. 520].
    ~
    b. Bilangan Raka'at serta Cara Pelaksanaannya
    1) Satu rakaat,
    ~
    عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَشِيَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. مسلم 1: 516
    ~
    Dari Ibnu 'Umar bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam itu. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Shalat malam itu 2 raka'at 2 raka'at. Maka apabila seseorang diantara kamu khawatir masuk Shubuh hendaklah shalat witir 1 raka'at. Yang seraka'at itu mewitirkan untuk shalat yang telah dikerjakan". [HR. Muslim juz 1, hal. 516]
    ~
    2) Tiga Rakaat,
    ~
    Bila melaksanakan 3 rakaat, harus dengan satu tasyahhud di rakaat yang terakhir, lalu salam, sebagaimana riwayat berikut :
    ~
    عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ اِذَا صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ الْمَنْزِلَ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهُمَا رَكْعَتَيْنِ اَطْوَلَ مِنْهُمَا، ثُمَّ اَوْتَرَ بِثَلَاثٍ لَا يَفْصِلُ فِيهِنَّ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، يَرْكَعُ وَهُوَ جَالِسٌ، وَيَسْجُدُ وَهُوَ قَاعِدٌ جَالِسٌ. احمد 11: 498، رقم: 25278
    ~
    Dari 'Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW apabila setelah shalat 'Isyak, beliau masuk ke rumah. Kemudian beliau shalat 2 rekaat, kemudian shalat lagi 2 reka'at yang lebih panjang daripada 2 reka'at yang pertama tadi, kemudian beliau berwitir 3 rekaat, dan beliau tidak memisahkan diantara tiga rekaat itu. Kemudian beliau shalat lagi 2 reka'at dalam keadaan duduk, beliau ruku' dalam keadaan duduk dan bersujud, dan beliau shalat dengan duduk". [HR. Ahmad juz 11, hal. 498, no. 25278]
    ~
    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ:كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُوْتِرُ بِثَلَاثٍ لَا يُسَلِّمُ اِلَّا فِى ا?خِرِهِنَّ. الحاكم فى المستدرك 1: 447، رقم: 1140
    ~
    Dari 'Aisyah, ia berkata, "Dahulu Rasulullah SAW pernah berwitir dengan 3 raka'at, beliau tidak salam kecuali pada rekaat yang terakhir". [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1 hal. 447, no. 1140].
    ~
    عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ اَنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ لَا يُسَلِّمُ فِى رَكْعَتَيِ اْلوِتْرِ. النسائى 3: 235
    ~
    Dari Sa'ad bin Hisyam, bahwasanya 'Aisyah menceritakan kepadanya bahwasanya dahulu Rasulullah SAW tidak salam pada dua rekaat dalam shalat witir". [HR. Nasaiy juz 3, hal. 235]
    ~
    Dan tidak diperkenankan shalat witir yang 3 rekaat itu dengan 2 raka'at salam, kemudian disambung dengan 1 rakaat lalu salam. Hal ini menyalahi riwayat 'Aisyah di atas dan juga menyalahi arti witir itu sendiri, karena witir itu artinya ganjil, sedang 2 itu genap, jadi tidak dapat dikatakan witir. Dan juga kita tidak diperkenankan shalat 3 raka'at tersebut dengan 2 tasyahhud 1 salam. Sebab ini menyerupai Maghrib, yang demikian ini dilarang oleh Nabi SAW sebagaimana hadits di bawah ini. Sabda Nabi SAW :
    ~
    لَا تُوْتِرُوْا بِثَلَاثٍ. اَوْتِرُوْا بِخَمْسٍ اَوْ بِسَبْعٍ وَلَا تُشَبِّهُوْا بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ. الدارقطنى 2: 24
    ~
    Janganlah kalian shalat witir 3 rekaat, (tetapi) shalatlah witir 5 rekaat atau 7, dan janganlah kalian menyerupai dengan shalat Maghrib". [HR. Daraquthniy juz 2, hal, 24].
    ~
    Keterangan :
    ~
    Dalam hadits ini, Rasulullah SAW melarang kita shalat witir 3 rekaat dan memerintahkan untuk shalat dengan 5 rekaat atau 7 rekaat. Sedang hadits-hadits lain menerangkan bahwa Rasulullah SAW sendiri mengerjakan shalat witir 3 rekaat. Maka dari kedua hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa : "Yang dilarang mengerjakan shalat witir 3 rekaat itu adalah shalat witir yang menyerupai shalat Maghrib, sedang shalat witir 3 rekaat yang tidak serupa dengan shalat Maghrib tidak dilarang, bahkan dikerjakan oleh Rasulullah SAW".
    ~
    Adapun bentuk keserupaan itu ialah : Dengan 2 tasyahhud satu salam. Maka supaya tidak menyerupai shalat Maghrib hendaklah shalat witir 3 rekaat tersebut dikerjakan dengan 3 rekaat sekaligus dengan satu tasyahhud di akhir rakaat dan satu salam.
    ~
    3) 5 rekaat dengan satu tasyahhud di rakaat yang terakhir lalu salam.
    ~
    Berdasar riwayat sebagai berikut :
    ~
    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوْتِرُ مِنْ ذ?لِكَ بِخَمْسٍ وَلَا يَجْلِسُ فِى شَيْءٍ اِلَّا فِى ا?خِرِهَا. مسلم 1: 508
    ~
    Dari ‘Aisyah, ia berkata, "Dahulu Rasulullah SAW shalat di malam hari 13 rekaat, dari 13 rekaat itu beliau shalat witir 5 rekaat. Dari 5 rekaat tersebut beliau tidak duduk (attahiyat) melainkan pada rekaat terakhir". [HR. Muslim juz 1, hal. 508].
    ~
    4) 7 rekaat dengan 2 tasyahhud di rekaat 6 dan 7 lalu salam.
    ~
    Berdasar riwayat sebagai berikut :
    ~
    عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَمَّا كَبُرَ وَضَعُفَ اَوْتَرَ بِسَبْعِ رَكَعَاتٍ لَا يَقْعُدُ اِلَّا فِى السَّادِسَةِ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ فَيُصَلِّى السَّابِعَةَ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمَةً. ابن حزم فى المحلى 3: 45
    ~
    Dari Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah SAW setelah lanjut usia dan lemah badannya, beliau berwitir dengan 7 rekaat dan tidak duduk kecuali pada rekaat yang ke 6, kemudian berdiri tanpa salam lalu menyelesaikan rekaat yang ke 7 kemudian salam dengan satu kali salam. [HR. Ibnu Hazm, dalam Al-Muhalla juz 3, hal. 45].
    ~
    5) 9 rekaat dengan 2 tasyahhud di rekaat yang ke 8 dan ke 9 setelah itu salam.
    ~
    Berdasar riwayat sebagai berikut :
    ~
    عَنْ سَعِيْدِ بْنِ هِشَامٍ اَنَّهُ قَالَ لِعَائِشَةَ. اَنْبِئِيْنِى عَنْ وِتْرِ رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَتْ: كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُوْرَهُ فَيَبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ اَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيْهَا اِلَّا فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوْهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ. مسلم 1: 513
    ~
    Dari Sa’id bin Hisyam, bahwasanya ia bertanya kepada 'Aisyah, "(Ya ‘Aisyah), beritahukanlah kepadaku tentang shalat witir Rasulullah SAW". Jawab 'Aisyah, "Kami biasa menyediakan penggosok gigi dan air wudlu bagi Rasulullah SAW, lalu beliau bangun malam pada waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian beliau menggosok gigi dan berwudlu lalu shalat (witir) sembilan rekaat dan beliau tidak duduk (attahiyat) melainkan pada rekaat yang ke delapan, lalu beliau menyebut, memuji dan berdoa kepada Allah, kemudian beliau berdiri dengan tidak mengucap salam, berdiri shalat (rekaat) yang ke sembilan, kemudian beliau duduk (attahiyat) menyebut, memuji dan berdoa kepada Allah, kemudian beliau mengucap salam sehingga terdengar oleh kami. Setelah itu beliau shalat 2 rekaat dengan duduk. Yang demikian itu jadi 11 rekaat hai anakku". [HR. Muslim juz 1, hal. 513].
    ~
    Dan kita dilarang mengerjakan 2 kali shalat witir pada satu malam
    ~
    عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: لَا وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ. الترمذى 1: 292، رقم: 468، و صححه ابن حبان
    ~
    Dari Qais bin Thalq bin 'Ali, dari ayahnya, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada dua witir dalam satu malam". [HR. Tirmidzi juz 1, hal. 292, no. 468, dan dishahkan oleh Ibnu Hibban].
    ~
    f. Bacaan sesudah shalat witir.
    ~
    Menurut riwayat Nasai, Rasulullah SAW setelah shalat witir, beliau membaca Subhaanal Malikil Qudduus 3 kali.
    ~
    عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْم?نِ بْنِ اَبْزَى عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص، كَانَ يُوْتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلاَعْل?ى، وَقُلْ ي??اَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ، وَقُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ. فَاِذَا فَرَغَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ، ثَلَاثًا وَيَمُدُّ فِى الثَّالِثَةِ. النسائى 3: 247
    ~
    Dari Qatadah dari Zurarah dari ‘Abdur Rahman bin Abza dari Rasulullah SAW, biasanya beliau SAW di dalam shalat witir membaca surat Al-A’laa, Al-Kaafirun dan Al-Ikhlash. Setelah selesai lalu beliau mengucapkan, “Subhaanal Malikil Qudduus (Maha Suci Allah Raja yang Maha Quddus) 3 kali, dan beliau memanjangkan pada bacaan yang ketiga”. [HR. Nasaaiy juz 3, hal. 247]
    ~
    Dan menurut riwayat Thabaraniy, setelah bacaan tersebut ada tambahan “Rabbul malaaikati war ruuh” (Tuhan nya para Malaikat dan Ruuh), namun tambahan ini tidak shahih, karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Isa bin Yuunus, yang tidak diketahui jarh - ta’dilnya.
    ~
    Adapun bacaan “Alloohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa, fa’fu ‘annii” itu adalah bacaan bila mengetahui Lailatul Qadr, sebagaimana riwayat berikut :
    ~
    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرَأَيْتَ اِنْ عَلِمْتُ اَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اْلقَدْرِ مَا اَقُوْلُ فِيْهَا؟ قَالَ: قُوْلِيْ: اَللّ?هُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ. الترمذى، وقَالَ: هذا حديث حسن صحيح، 5: 195، رقم: 3580
    ~
    Dari ‘Aisyah, ia berkata : Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau apabila aku mengetahui bahwa malam itu malam Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca ?”. Beliau bersabda, “Bacalah Alloohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku)”. [HR. Tirmidzi juz 5, hal. 195, no. 3580]
    ~
    Lafadh tersebut juga diriwayatkan oleh Ahmad juz 9 hal. 526, juz 9 hal. 547 dan juz 10, hal. 24, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah juz 2, hal. 1265, no. 3850. Namun dalam ‘Aridlatul Ahwadzi dengan lafadh :
    ~
    اَللّ?هُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ. الترمذى، فى عارضة الاحوذى، 13: 42، رقم: 3513
    ~
    Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku. [HR. Tirmidzi, dalam ‘Aridlotul Ahwadzi juz 13, hal. 42, no. 3513]
    ~
    D. Shalat Iftitah.
    ~
    Shalat Iftitah adalah shalat sunnah dua rekaat yang ringan untuk mengawali shalat lail.
    ~
    عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: اِذَا قَامَ اَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ. مسلم 1: 532
    ~
    Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian bangun malam, maka hendaklah ia membuka shalatnya dengan dua rekaat yang ringan. [HR. Muslim juz 1, hal. 532].

    Semoga Allah swt menguatkan lahir dan bathin kita untuk semakin menyempurnakan ketaatan dan kepasrahan kepada-Nya, Zat yang menggenggam jiwa kita dan yang Maha Mengetahui masa depan kita.
    Aamiin.

    🕋Barakallahufik.....
    Bismillah MENGHIDUPKAN MALAM-MALAM RAMADHAN (SHALATUL LAIL) ~ Shalat Sunnah Lail ialah : Shalat-shalat Sunnah yang dikerjakan pada malam hari selain Ba'diyah 'Isya'. ~ Adapun waktunya ialah : Sehabis shalat 'Isya' hingga akhir waktu 'Isya' sebelum masuk waktu Shubuh. Dan shalat Lail itu boleh dikerjakan sebelum maupun sesudah tidur. ~ Macam-macamnya : ~ A. Shalat Sunnah Tarawih. C. Shalat Sunnah Witir. ~ B. Shalat Sunnah Tahajjud. D. Shalat Sunnah Iftitah. ~ A. Shalat Tarawih ~ Tarawih artinya relax, santai, istirahat. ~ Ulama mengistilahkan Shalat Sunnah ini dengan Shalat Tarawih, karena melihat riwayat yang menjelaskan tentang bagaimana cara Nabi SAW melakukannya. Yaitu dengan perlahan-lahan/relax/santai serta diselingi dengan istirahat setiap habis salam, sebagaimana riwayat dibawah ini: ~ Dari 'Aisyah RA, katanya : ~ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَرَوَّحُ فَاَطَالَ حَتَّى رَحِمْتُهُ. البيهقى 2: 497 ~ Adalah Rasulullah SAW shalat 4 rekaat dimalam hari. Kemudian beliau beristirahat/bertarawih lama sekali, sehingga aku merasa kasihan kepadanya. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 497] ~ Waktu, Bilangan dan Cara Pelaksanaan shalat tarawih a. Waktunya. ~ Setiap malam pada bulan Ramadlan, boleh dikerjakan diawwal malam atau di pertengahan maupun di akhirnya, baik sebelum tidur maupun sesudah tidur. Tegasnya, shalat tarawih adalah shalat malam di bulan Ramadlan. ~ عَنْ اَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: صُمْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَمَضَانَ. فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتِ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتِ اْلخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ. ابو داود 2: 50، رقم: 1375 ~ Dari Abu Dzarr, ia berkata : Kami berpuasa Ramadlan bersama Rasulullah SAW. Beliau tidak shalat (malam) bersama kami sehingga tinggal tujuh hari dari bulan itu. Lalu beliau shalat bersama kami hingga lewat sepertiga malam, kemudian beliau tidak shalat malam bersama kami pada malam yang keenam. Tetapi beliau shalat malam bersama kami pada malam yang ke lima hingga lewat tengah malam. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 50, no. 1375] ~ عَنْ عَبْدِ الرَّحْم?نِ بْنِ عَبْدِ اْلقَارِيِّ اَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ ابْنِ اْلخَطَّابِ رضي الله عنه لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ اِلىَ الْمَسْجِدِ فَاِذَا النَّاسُ اَوْزَاعٌ مُتَفَرّقُوْنَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: اِنِّى اَرَى لَوْ جَمَعْتُ ه?ؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ اَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى اُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ. ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً اُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ: نِعْمَ اْلبِدْعَةُ ه?ذِهِ، وَالَّتِى يَنَامُوْنَ عَنْهَا اَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُوْمُوْنَ يُرِيْدُ ا?خِرَ اللَّيْلِ. وَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ اَوَّلَهُ. البخارى 2: 252 ~ Dari Abdurrahman bin Abdul Qariyyi, bahwasanya ia berkata, "Saya pernah keluar ke masjid bersama Umar bin Khaththab RA. pada suatu malam di bulan Ramadlan, Tiba-tiba kami dapati orang-orang berkelompok-kelompok dan terpisah-pisah, ada yang shalat sendirian dan ada yang shalat dengan diikuti beberapa orang. Maka Umar berkata, "Saya berpendapat lebih baik mereka ini saya kumpulkan dengan diimami oleh seorang imam". Kemudian Umar ber'azam dan mengumpulkan mereka itu dengan diimami oleh Ubay bin Ka'ab. Kemudian saya keluar lagi bersama Umar pada malam yang lain, sedang orang-orang shalat dengan bermakmum kepada imam mereka. Umar berkata, "Sebaik-baik bid'ah adalah ini". Dan shalat yang mereka kerjakan pada akhir malam adalah lebih utama dari pada yang mereka kerjakan di awwal malam. Sedangkan orang-orang biasa mengerjakannya di awwal malam. [HR. Bukhari juz 2 : 252]. ~ b. Bilangan Raka'atnya ~ Shalat Sunnah Tarawih ini, bilangan raka'at yang biasa dikerjakan oleh Nabi SAW adalah sebelas raka'at beserta witirnya. Dan sebanyak-banyaknya tak terbatas, berapa saja seseorang mampu melaksanakan-nya hingga habis waktu shalat sunnah tersebut, yaitu masuk waktu Shubuh. ~ عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى مَا بَيْنَ اَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ اْلعِشَاءِ اِلىَ اْلفَجْرِ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ. مسلم 1: 508 ~ Dari 'Aisyah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW shalat antara beliau selesai dari shalat 'Isyak hingga fajar, 11 rekaat. Beliau salam antara tiap-tiap 2 rekaat, lalu berwitir 1 rekaat". [HR. Muslim juz 1, hal. 508]. ~ عَنْ اَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْم?نِ اَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رضي الله عنها كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ؟ فَقَالَتْ: مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا. البخارى 2: 47، مسلم 1: 509 ~ Dari Abu Salamah bin 'Abdur Rahman, bahwasanya ia pernah bertanya kepada 'Aisyah RA, "Bagaimanakah shalatnya Rasulullah SAW di bulan Ramadlan ?". Maka 'Aisyah berkata, "Rasulullah SAW tidak melebihkan di bulan Ramadlan maupun di luar Ramadlan atas sebelas rekaat. Beliau shalat empat rekaat, jangan kamu tanya bagusnya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rekaat, jangan kamu tanya bagusnya dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga rekaat". [HR. Bukhari juz 2, hal. 47; Muslim juz 1, hal. 509] ~ Keterangan : ~ Maksud hadits tersebut, Nabi SAW shalat 2 raka'at salam, 2 raka'at salam lalu istirahat. Dilanjutkan lagi 2 raka'at salam, 2 raka'at salam lalu istirahat. Kemudian beliau shalat witir 3 reka'at. ~ Namun hadits tersebut bukan merupakan batasan dari Nabi SAW, tetapi hanya menunjukkan bahwa biasanya Nabi SAW shalat malam sebelas raka'at. ~ عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَشِيَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. مسلم 1: 516 ~ Dari Ibnu 'Umar bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Shalat malam itu 2 raka'at 2 raka'at. Maka apabila seseorang diantara kalian khawatir masuk Shubuh, hendaklah ia shalat witir 1 raka'at. Yang seraka'at itu mewitirkan untuk shalat yang telah ia kerjakan". [HR. Muslim juz 1, hal. 516] ~ c. Cara Pelaksanaan ~ 1. Boleh dengan Jahr (suara nyaring) maupun Sirr (suara lembut) : ~ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى قَيْسٍ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ: كَيْفَ كَانَ قِرَاءَةُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِاللَّيْلِ؟ فَقَالَتْ: كُلُّ ذ?لِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ، رُبَمَا اَسَرَّ بِالْقِرَاءَةِ وَرُبَمَا جَهَرَ. فَقُلْتُ: اَلْحَمْدُ لِلّ?هِ الَّذِيْ جَعَلَ فِى اْلاَمْرِ سَعَةً. الترمذى 1: 278، رقم: 447، و قال: هذا حديث صحيح غريب ~ Dari 'Abdullah bin Abu Qais, ia berkata : Aku bertanya kepada 'Aisyah RA, "Bagaimana bacaan Nabi SAW pada waktu (shalat) malam ?". Jawab 'Aisyah, "Semuanya itu pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, terkadang beliau membaca sirr (pelan) dan terkadang beliau membaca jahr (nyaring)". Maka aku berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kelonggaran dalam hal ini". [HR. Tirmidzi juz 1, hal. 278, no. 447, ia berkata : Ini hadits shahih, gharib] ~ 2. Boleh dikerjakan dengan berjama'ah maupun munfarid (sendirian) ~ عَنْ عَائِشَةَ اُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ رضي الله عنها اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِى الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ. ثُمَّ صَلَّى مِنَ اْلقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ. ثُمَّ اجْتَمَعُوْا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ اَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ اِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ ص فَلَمَّا اَصْبَحَ قَالَ:قَدْ رَأَيْتُ الَّذِى صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِى مِنَ اْلخُرُوْجِ اِلَيْكُمْ اِلَّا اَنِّى خَشِيْتُ اَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَذ?لِكَ فِى رَمَضَانَ. البخارى 2: 44 ~ Dari 'Aisyah Ummul Mu’minin RA, bahwasanya pada suatu malam Rasulullah SAW shalat malam dimasjid, maka orang-orangpun turut shalat bersama beliau. Kemudian beliau shalat pula pada malam berikutnya, maka bertambah banyak orang yang mengikutinya. Kemudian malam ketiganya atau ke empatnya mereka telah berkumpul, tetapi beliau tidak datang. Maka setelah pagi harinya beliau berkata, "Sungguh saya telah mengetahui apa yang kalian lakukan tadi malam dan saya tidak berhalangan untuk datang kepada kalian, hanyasaja saya khawatir kalau shalat itu diwajibkan atas kalian". (Kata 'Aisyah), "Kejadian tersebut pada bulan Ramadlan". [HR. Bukhari juz 2, hal. 44] ~ B. Shalat Sunnah Tahajjud Shalat Sunnah Tahajjud adalah : Shalat malam yang dikerjakan di luar bulan Ramadlan. ~ Nama Tahajjud diambil dari firman Allah ayat 79 surat Al-Israa' : ~ وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِه نَافِلَةً لَّكَ. الاسراء: 79 ~ Dan pada sebagian malam bershalat Tahajjudlah kamu sebagai suatu tambahan bagimu. [QS. Al-Israa' : 79] ~ Jadi, shalat sunnah tarawih dan shalat sunnah tahajjud adalah sama. Kalau dikerjakan di bulan Ramadlan disebut shalat Tarawih, sedangkan jika dikerjakan di luar Ramadlan disebut shalat Tahajjud. ~ C. Shalat Sunnah Witir Shalat sunnah witir ialah shalat sunnah lail yang dikerjakan dengan bilangan rakaat yang ganjil (witir = ganjil). ~ عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَا اَهْلَ اْلقُرْا?نِ اَوْتِرُوْا فَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ اْلوِتْرَ. ابو داود 1: 61، رقم: 1416 ~ Dari 'Ali RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Wahai ahli Qur'an, berwitirlah kalian, karena sesungguhnya Allah itu witir/tunggal, Ia suka kepada (shalat) witir". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 61, no. 1416] ~ Waktu, bilangan dan cara pelaksanaan shalat witir ~ a. waktunya : ~ Pada setiap malam, baik di dalam maupun diluar Ramadlan, boleh dikerjakan di awwal, pertengahan, ataupun diakhir malam, baik sebelum maupun sesudah tidur, kesemuanya itu pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW : ~ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ اَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ اَوَّلِ اللَّيْلِ وَاَوْسَطِهِ وَا?خِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ اِلىَ السَّحَرِ. مسلم 1: 512 ~ Dari 'Aisyah RA, ia berkata, "Dalam seluruh (bagian) malam Rasulullah SAW pernah mengerjakan witir, di permulaan malam, dipertengahannya, dan di akhirnya, hingga witirnya selesai pada waktu sahur". [HR. Muslim juz 1, hal. 512] ~ عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ خَافَ اَنْ لَا يَقُوْمَ مِنْ ا?خِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ اَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ اَنْ يَقُوْمَ ا?خِرَهُ فَلْيُوْتِرْ ا?خِرَ اللَّيْلِ. فَاِنَّ صَلَاةَ ا?خِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ وَذ?لِكَ اَفْضَلُ. مسلم 1: 520 ~ Dari Jabir RA, ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa khawatir tidak akan bangun pada akhir malam, maka bolehlah berwitir pada awwal malam. Dan barangsiapa berkeyakinan mampu bangun di akhir malam, maka hendaklah mengerjakan witir pada saat itu, karena shalat di akhir malam itu disaksikan dan yang demikian itu lebih utama". [HR. Muslim juz 1, hal. 520]. ~ b. Bilangan Raka'at serta Cara Pelaksanaannya 1) Satu rakaat, ~ عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى. فَاِذَا خَشِيَ اَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى. مسلم 1: 516 ~ Dari Ibnu 'Umar bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam itu. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Shalat malam itu 2 raka'at 2 raka'at. Maka apabila seseorang diantara kamu khawatir masuk Shubuh hendaklah shalat witir 1 raka'at. Yang seraka'at itu mewitirkan untuk shalat yang telah dikerjakan". [HR. Muslim juz 1, hal. 516] ~ 2) Tiga Rakaat, ~ Bila melaksanakan 3 rakaat, harus dengan satu tasyahhud di rakaat yang terakhir, lalu salam, sebagaimana riwayat berikut : ~ عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ اِذَا صَلَّى الْعِشَاءَ دَخَلَ الْمَنْزِلَ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهُمَا رَكْعَتَيْنِ اَطْوَلَ مِنْهُمَا، ثُمَّ اَوْتَرَ بِثَلَاثٍ لَا يَفْصِلُ فِيهِنَّ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ، يَرْكَعُ وَهُوَ جَالِسٌ، وَيَسْجُدُ وَهُوَ قَاعِدٌ جَالِسٌ. احمد 11: 498، رقم: 25278 ~ Dari 'Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW apabila setelah shalat 'Isyak, beliau masuk ke rumah. Kemudian beliau shalat 2 rekaat, kemudian shalat lagi 2 reka'at yang lebih panjang daripada 2 reka'at yang pertama tadi, kemudian beliau berwitir 3 rekaat, dan beliau tidak memisahkan diantara tiga rekaat itu. Kemudian beliau shalat lagi 2 reka'at dalam keadaan duduk, beliau ruku' dalam keadaan duduk dan bersujud, dan beliau shalat dengan duduk". [HR. Ahmad juz 11, hal. 498, no. 25278] ~ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ:كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُوْتِرُ بِثَلَاثٍ لَا يُسَلِّمُ اِلَّا فِى ا?خِرِهِنَّ. الحاكم فى المستدرك 1: 447، رقم: 1140 ~ Dari 'Aisyah, ia berkata, "Dahulu Rasulullah SAW pernah berwitir dengan 3 raka'at, beliau tidak salam kecuali pada rekaat yang terakhir". [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1 hal. 447, no. 1140]. ~ عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ اَنَّ عَائِشَةَ حَدَّثَهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ لَا يُسَلِّمُ فِى رَكْعَتَيِ اْلوِتْرِ. النسائى 3: 235 ~ Dari Sa'ad bin Hisyam, bahwasanya 'Aisyah menceritakan kepadanya bahwasanya dahulu Rasulullah SAW tidak salam pada dua rekaat dalam shalat witir". [HR. Nasaiy juz 3, hal. 235] ~ Dan tidak diperkenankan shalat witir yang 3 rekaat itu dengan 2 raka'at salam, kemudian disambung dengan 1 rakaat lalu salam. Hal ini menyalahi riwayat 'Aisyah di atas dan juga menyalahi arti witir itu sendiri, karena witir itu artinya ganjil, sedang 2 itu genap, jadi tidak dapat dikatakan witir. Dan juga kita tidak diperkenankan shalat 3 raka'at tersebut dengan 2 tasyahhud 1 salam. Sebab ini menyerupai Maghrib, yang demikian ini dilarang oleh Nabi SAW sebagaimana hadits di bawah ini. Sabda Nabi SAW : ~ لَا تُوْتِرُوْا بِثَلَاثٍ. اَوْتِرُوْا بِخَمْسٍ اَوْ بِسَبْعٍ وَلَا تُشَبِّهُوْا بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ. الدارقطنى 2: 24 ~ Janganlah kalian shalat witir 3 rekaat, (tetapi) shalatlah witir 5 rekaat atau 7, dan janganlah kalian menyerupai dengan shalat Maghrib". [HR. Daraquthniy juz 2, hal, 24]. ~ Keterangan : ~ Dalam hadits ini, Rasulullah SAW melarang kita shalat witir 3 rekaat dan memerintahkan untuk shalat dengan 5 rekaat atau 7 rekaat. Sedang hadits-hadits lain menerangkan bahwa Rasulullah SAW sendiri mengerjakan shalat witir 3 rekaat. Maka dari kedua hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa : "Yang dilarang mengerjakan shalat witir 3 rekaat itu adalah shalat witir yang menyerupai shalat Maghrib, sedang shalat witir 3 rekaat yang tidak serupa dengan shalat Maghrib tidak dilarang, bahkan dikerjakan oleh Rasulullah SAW". ~ Adapun bentuk keserupaan itu ialah : Dengan 2 tasyahhud satu salam. Maka supaya tidak menyerupai shalat Maghrib hendaklah shalat witir 3 rekaat tersebut dikerjakan dengan 3 rekaat sekaligus dengan satu tasyahhud di akhir rakaat dan satu salam. ~ 3) 5 rekaat dengan satu tasyahhud di rakaat yang terakhir lalu salam. ~ Berdasar riwayat sebagai berikut : ~ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوْتِرُ مِنْ ذ?لِكَ بِخَمْسٍ وَلَا يَجْلِسُ فِى شَيْءٍ اِلَّا فِى ا?خِرِهَا. مسلم 1: 508 ~ Dari ‘Aisyah, ia berkata, "Dahulu Rasulullah SAW shalat di malam hari 13 rekaat, dari 13 rekaat itu beliau shalat witir 5 rekaat. Dari 5 rekaat tersebut beliau tidak duduk (attahiyat) melainkan pada rekaat terakhir". [HR. Muslim juz 1, hal. 508]. ~ 4) 7 rekaat dengan 2 tasyahhud di rekaat 6 dan 7 lalu salam. ~ Berdasar riwayat sebagai berikut : ~ عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَمَّا كَبُرَ وَضَعُفَ اَوْتَرَ بِسَبْعِ رَكَعَاتٍ لَا يَقْعُدُ اِلَّا فِى السَّادِسَةِ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ فَيُصَلِّى السَّابِعَةَ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمَةً. ابن حزم فى المحلى 3: 45 ~ Dari Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah SAW setelah lanjut usia dan lemah badannya, beliau berwitir dengan 7 rekaat dan tidak duduk kecuali pada rekaat yang ke 6, kemudian berdiri tanpa salam lalu menyelesaikan rekaat yang ke 7 kemudian salam dengan satu kali salam. [HR. Ibnu Hazm, dalam Al-Muhalla juz 3, hal. 45]. ~ 5) 9 rekaat dengan 2 tasyahhud di rekaat yang ke 8 dan ke 9 setelah itu salam. ~ Berdasar riwayat sebagai berikut : ~ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ هِشَامٍ اَنَّهُ قَالَ لِعَائِشَةَ. اَنْبِئِيْنِى عَنْ وِتْرِ رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَتْ: كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُوْرَهُ فَيَبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ اَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيْهَا اِلَّا فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوْهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ اِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ. مسلم 1: 513 ~ Dari Sa’id bin Hisyam, bahwasanya ia bertanya kepada 'Aisyah, "(Ya ‘Aisyah), beritahukanlah kepadaku tentang shalat witir Rasulullah SAW". Jawab 'Aisyah, "Kami biasa menyediakan penggosok gigi dan air wudlu bagi Rasulullah SAW, lalu beliau bangun malam pada waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian beliau menggosok gigi dan berwudlu lalu shalat (witir) sembilan rekaat dan beliau tidak duduk (attahiyat) melainkan pada rekaat yang ke delapan, lalu beliau menyebut, memuji dan berdoa kepada Allah, kemudian beliau berdiri dengan tidak mengucap salam, berdiri shalat (rekaat) yang ke sembilan, kemudian beliau duduk (attahiyat) menyebut, memuji dan berdoa kepada Allah, kemudian beliau mengucap salam sehingga terdengar oleh kami. Setelah itu beliau shalat 2 rekaat dengan duduk. Yang demikian itu jadi 11 rekaat hai anakku". [HR. Muslim juz 1, hal. 513]. ~ Dan kita dilarang mengerjakan 2 kali shalat witir pada satu malam ~ عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: لَا وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ. الترمذى 1: 292، رقم: 468، و صححه ابن حبان ~ Dari Qais bin Thalq bin 'Ali, dari ayahnya, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada dua witir dalam satu malam". [HR. Tirmidzi juz 1, hal. 292, no. 468, dan dishahkan oleh Ibnu Hibban]. ~ f. Bacaan sesudah shalat witir. ~ Menurut riwayat Nasai, Rasulullah SAW setelah shalat witir, beliau membaca Subhaanal Malikil Qudduus 3 kali. ~ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْم?نِ بْنِ اَبْزَى عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص، كَانَ يُوْتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلاَعْل?ى، وَقُلْ ي??اَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ، وَقُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ. فَاِذَا فَرَغَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ، ثَلَاثًا وَيَمُدُّ فِى الثَّالِثَةِ. النسائى 3: 247 ~ Dari Qatadah dari Zurarah dari ‘Abdur Rahman bin Abza dari Rasulullah SAW, biasanya beliau SAW di dalam shalat witir membaca surat Al-A’laa, Al-Kaafirun dan Al-Ikhlash. Setelah selesai lalu beliau mengucapkan, “Subhaanal Malikil Qudduus (Maha Suci Allah Raja yang Maha Quddus) 3 kali, dan beliau memanjangkan pada bacaan yang ketiga”. [HR. Nasaaiy juz 3, hal. 247] ~ Dan menurut riwayat Thabaraniy, setelah bacaan tersebut ada tambahan “Rabbul malaaikati war ruuh” (Tuhan nya para Malaikat dan Ruuh), namun tambahan ini tidak shahih, karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Isa bin Yuunus, yang tidak diketahui jarh - ta’dilnya. ~ Adapun bacaan “Alloohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa, fa’fu ‘annii” itu adalah bacaan bila mengetahui Lailatul Qadr, sebagaimana riwayat berikut : ~ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرَأَيْتَ اِنْ عَلِمْتُ اَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ اْلقَدْرِ مَا اَقُوْلُ فِيْهَا؟ قَالَ: قُوْلِيْ: اَللّ?هُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ. الترمذى، وقَالَ: هذا حديث حسن صحيح، 5: 195، رقم: 3580 ~ Dari ‘Aisyah, ia berkata : Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau apabila aku mengetahui bahwa malam itu malam Lailatul Qadr, apa yang harus aku baca ?”. Beliau bersabda, “Bacalah Alloohumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku)”. [HR. Tirmidzi juz 5, hal. 195, no. 3580] ~ Lafadh tersebut juga diriwayatkan oleh Ahmad juz 9 hal. 526, juz 9 hal. 547 dan juz 10, hal. 24, juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah juz 2, hal. 1265, no. 3850. Namun dalam ‘Aridlatul Ahwadzi dengan lafadh : ~ اَللّ?هُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ. الترمذى، فى عارضة الاحوذى، 13: 42، رقم: 3513 ~ Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku. [HR. Tirmidzi, dalam ‘Aridlotul Ahwadzi juz 13, hal. 42, no. 3513] ~ D. Shalat Iftitah. ~ Shalat Iftitah adalah shalat sunnah dua rekaat yang ringan untuk mengawali shalat lail. ~ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: اِذَا قَامَ اَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ. مسلم 1: 532 ~ Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian bangun malam, maka hendaklah ia membuka shalatnya dengan dua rekaat yang ringan. [HR. Muslim juz 1, hal. 532]. Semoga Allah swt menguatkan lahir dan bathin kita untuk semakin menyempurnakan ketaatan dan kepasrahan kepada-Nya, Zat yang menggenggam jiwa kita dan yang Maha Mengetahui masa depan kita. Aamiin. 🕋Barakallahufik.....
    22 0 Comments 0 Shares
  • Bismillah

    KUPENUHI PANGGILAN-MU

    Sebagai manusia ciptaan Alloh tentunya setiap saat akan mengalami suatu panggilan dari Alloh . Namun tidak semua manusia itu mampu memenuhi panggilan Alloh karena belum mendapat hidayah-Nya. Berikut ada lima panggilan kepada manusia yaitu :

    1 – PANGGILAN HARIAN 7
    Ini merupakan panggilan shalat fardhu 5 waktu setiap hari dan malam berupa adzan untuk mengingat dan berkomunikasi dengan Allah Subhannahu wa ta’ala.

    Allah ta’ala berfirman:
    “ ... Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” ~
    *QS 4 – an-Nisaa’ : 103*

    2 – PANGGILAN MINGGUAN –
    Ini merupakan panggilan untuk menunaikan shalat Jumu’ah berjamaah di masjid yang merupakan fardhu bagi pria. DiperintahkanNya untuk meninggalkan semua kegiatan perdagangan untuk mengingat Sang Khaliq di hari Jum’at, hari segala hari.

    Allah ta’ala berfirman :
    “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat kpd Allah, dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”
    *QS 62 – al-Jumu’ah : 9*

    3 – PANGGILAN TAHUNAN
    Ini adalah penggilan untuk menuntaskan shaum Ramadhan. Selain shaum di sunnahkan untuk melakukan berbagai ibadah dan kebaikan demi mengharap ridho Allah dengan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

    Allah ta’ala berfirman :
    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”
    *QS 2 – al-Baqarah : 183*

    4 – PANGGILAN SEKALI SEUMUR HIDUP –
    Ini merupakan panggilan yang diwajibkan hanya satu kali bagi yang mampu secara fisik dan finansial, serta terjaminnya perjalanannya yang aman. Panggilan ini seringkali tidak dianggap penting, saat seseorang sudah terbuai oleh kenikmatan dunia karena keberhasilan dalam karir dan kehidupan.

    Allah ta’ala berfirman :
    “ ... mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) mereka yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah...”
    *QS 3 – Ali ‘Imran : 97*

    5 – PANGGILAN UNTUK MENINGGALKAN DUNIA FANA –
    Ini adalah panggilan terakhir dari Allah Subhaanahu wa ta’ala untuk meninggalkan dunia fana dengan mengutus malaikat Izrail, Sang Malaikatulmaut untuk mencabut ruh kita dari tubuh kita.

    Allah berfirman :
    “Katakanlah : “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”
    *QS 62 – al-Jumu’ah : 8*

    Panggilan ini bisa ditujukan kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Kematian bisa mendatangi yang muda apalagi yang tua, yang sehat apalagi yang sakit, yang berhati-hati apalagi yang sembrono.
    Dan semua panggilan kematian sudah ada dalam rencana Allah Subhaanahu wa ta’ala     
    Bersegeralah memenuhi panggilan nomer 1 sampai dengan 4, selagi sehat dan mampu, dan bersiaplah untuk memenuhi panggilan ke 5 yang bisa terjadi sewaktu-waktu .

    Alhamdulillah skrg kita masih diberikan Allah swt kesehatan dan umur yg panjang saat ini dan insya Allah masih bisa memenuhi panggilan Alloh dan sebentar lagi insya Alloh kita masih bisa memenuhi panggilan Allah mingguan yaitu sholat Jumat berjamaah hari ini dan kita juga doakan untuk diri kita keluarga kita tetangga kita dan saudara2 kita semoga mereka juga bisa memenuhi dan mempersiapkan diri memenuhi panggilan Alloh ini dan jangan sampai kita melupakan panggilan Allah yang entah kapan saja dimana saja sewaktu2 Allah bisa mengambil nyawa kita.
    Semoga kita tergolong orang-orang beriman yang peka atau mudah menuruti terhadap panggilan-panggilan Allah di atas, agar kita mendapat keselamatan di dunia dan akhirat. Aamiin

    🕋Barakallahufikum....
    Bismillah KUPENUHI PANGGILAN-MU Sebagai manusia ciptaan Alloh tentunya setiap saat akan mengalami suatu panggilan dari Alloh . Namun tidak semua manusia itu mampu memenuhi panggilan Alloh karena belum mendapat hidayah-Nya. Berikut ada lima panggilan kepada manusia yaitu : 1 – PANGGILAN HARIAN 7 Ini merupakan panggilan shalat fardhu 5 waktu setiap hari dan malam berupa adzan untuk mengingat dan berkomunikasi dengan Allah Subhannahu wa ta’ala. Allah ta’ala berfirman: “ ... Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” ~ *QS 4 – an-Nisaa’ : 103* 2 – PANGGILAN MINGGUAN – Ini merupakan panggilan untuk menunaikan shalat Jumu’ah berjamaah di masjid yang merupakan fardhu bagi pria. DiperintahkanNya untuk meninggalkan semua kegiatan perdagangan untuk mengingat Sang Khaliq di hari Jum’at, hari segala hari. Allah ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat kpd Allah, dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” *QS 62 – al-Jumu’ah : 9* 3 – PANGGILAN TAHUNAN Ini adalah penggilan untuk menuntaskan shaum Ramadhan. Selain shaum di sunnahkan untuk melakukan berbagai ibadah dan kebaikan demi mengharap ridho Allah dengan pahala berlipat ganda di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” *QS 2 – al-Baqarah : 183* 4 – PANGGILAN SEKALI SEUMUR HIDUP – Ini merupakan panggilan yang diwajibkan hanya satu kali bagi yang mampu secara fisik dan finansial, serta terjaminnya perjalanannya yang aman. Panggilan ini seringkali tidak dianggap penting, saat seseorang sudah terbuai oleh kenikmatan dunia karena keberhasilan dalam karir dan kehidupan. Allah ta’ala berfirman : “ ... mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) mereka yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah...” *QS 3 – Ali ‘Imran : 97* 5 – PANGGILAN UNTUK MENINGGALKAN DUNIA FANA – Ini adalah panggilan terakhir dari Allah Subhaanahu wa ta’ala untuk meninggalkan dunia fana dengan mengutus malaikat Izrail, Sang Malaikatulmaut untuk mencabut ruh kita dari tubuh kita. Allah berfirman : “Katakanlah : “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” *QS 62 – al-Jumu’ah : 8* Panggilan ini bisa ditujukan kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Kematian bisa mendatangi yang muda apalagi yang tua, yang sehat apalagi yang sakit, yang berhati-hati apalagi yang sembrono. Dan semua panggilan kematian sudah ada dalam rencana Allah Subhaanahu wa ta’ala      Bersegeralah memenuhi panggilan nomer 1 sampai dengan 4, selagi sehat dan mampu, dan bersiaplah untuk memenuhi panggilan ke 5 yang bisa terjadi sewaktu-waktu . Alhamdulillah skrg kita masih diberikan Allah swt kesehatan dan umur yg panjang saat ini dan insya Allah masih bisa memenuhi panggilan Alloh dan sebentar lagi insya Alloh kita masih bisa memenuhi panggilan Allah mingguan yaitu sholat Jumat berjamaah hari ini dan kita juga doakan untuk diri kita keluarga kita tetangga kita dan saudara2 kita semoga mereka juga bisa memenuhi dan mempersiapkan diri memenuhi panggilan Alloh ini dan jangan sampai kita melupakan panggilan Allah yang entah kapan saja dimana saja sewaktu2 Allah bisa mengambil nyawa kita. Semoga kita tergolong orang-orang beriman yang peka atau mudah menuruti terhadap panggilan-panggilan Allah di atas, agar kita mendapat keselamatan di dunia dan akhirat. Aamiin 🕋Barakallahufikum....
    21 0 Comments 1 Shares
  • Bismillah

    DOA YANG TIDAK TERTOLAK

    Sebagaimana kita ketahui bersama Doa bisa menjadi salah satu alasan seseorang untuk tidak berputus asa ketika menghadapi sebuah ujian atau masalah. Karena lewat doa, seorang hamba bisa memohon segala sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    Allah sangat mencintai orang-orang yang mau berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya. Allah juga akan mengampuni hamba-hamba-Nya yang selalu ingat dan berdoa kepada-Nya, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits qudsi berikut ini:

    “Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku mengampuni dosamu dan tidak Aku pedulikan lagi dosamu.” [HR. At-Tirmidzi]

    Berbicara tentang doa, ternyata ada doa-doa yang tidak akan tertolak sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rosulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    “Ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak: Seorang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang didzalimi. Allah mengangkat doa itu di atas awan dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit, dan Allah berfirman : ‘Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu, walaupun pada suatu saat nanti'” [HR. Ahmad]

    Dari hadits di atas, ada tiga golongan yang doanya tidak tertolak, mereka ialah:

    1. Orang yang Berpuasa
    Seseorang yang berpuasa dengan niat karena Allah pasti akan menjalankan puasa tersebut dengan sungguh-sungguh.

    Puasa sendiri akan menjadikan seseorang itu menahan hawa nafsu, melemahkan sikap sombong dan tamak, serta membuat hatinya bersih dan jiwanya suci.

    Orang yang berpuasa juga akan lebih dekat dengan Allah. Karena ketakwaan itulah, doa orang yang berpuasa tidak akan tertolak.

    2. Pemimpin yang Adil
    Doa dari pemimpin yang adil juga tidak akan tertolak. Seorang pemimpin adalah orang yang menjadi panutan, selain itu seorang pemimpin juga memiliki tanggungjawab yang besar dan kelak di akhirat ia akan dimintai pertanggungjawaban.

    Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang bisa menjadi panutan dan sekaligus dapat menempatkan segala sesuatu yang sesuai dengan proporsi agar dapat mengambil keputusan dengan baik.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kriteria pemimpin di dalam Alquran:

    “Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” [QS. Al-Anbiya’ ayat 73].

    3. Orang yang Teraniaya
    Doa dari orang yang teraniaya dan terdzalimi juga tidak akan tertolak. Allah akan mengabulkan doa-doa mereka yang terdzalimi, meskipun orang kafir sekalipun.

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

    “Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang yang dizalimi sekalipun dia adalah orang kafir. Maka sesungguhnya tidak ada penghalang diantaranya untuk diterima oleh Allah.” [HR Ahmad]

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    “Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizhalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”. [QS. An-Nisa ayat 148]

    Rasul juga berpesan kepada sahabat untuk menjaga diri dari orang yang teraniaya. Dari Mu’az ra. berkata, aku diutus oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. lalu Beliau bersabda:

    “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sesuatu kaum dari ahli kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah patuh untuk melakukan itu, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam setiap sehari semalam. Jika mereka telah patuh untuk melakukan itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, kemudian diberikan kepada yang miskin. Jika mereka telah patuh untuk melakukan itu, jauhilah harta mereka. Peliharalah diri kalian dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah”. [Muttafaq ‘alaih]

    Doa merupakan salah satu cara kita untuk memohon sesuatu kepada Allah. Doa juga merupakan penghubung, sarana untuk berhubungan dengan Allah. Allah menyeru kita untuk berdoa kepada-Nya. Dia menganjurkan kita agar memohon kepda-Nya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

    “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al-Araf ayat 55).

    Semoga doa kita semua tidak tertolak sehingga dimudahkan dapat berkumpul bersama di Jannah. Aamiin

    🕋Barakallahufikum....
    Bismillah DOA YANG TIDAK TERTOLAK Sebagaimana kita ketahui bersama Doa bisa menjadi salah satu alasan seseorang untuk tidak berputus asa ketika menghadapi sebuah ujian atau masalah. Karena lewat doa, seorang hamba bisa memohon segala sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah sangat mencintai orang-orang yang mau berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya. Allah juga akan mengampuni hamba-hamba-Nya yang selalu ingat dan berdoa kepada-Nya, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits qudsi berikut ini: “Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku mengampuni dosamu dan tidak Aku pedulikan lagi dosamu.” [HR. At-Tirmidzi] Berbicara tentang doa, ternyata ada doa-doa yang tidak akan tertolak sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rosulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak: Seorang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang didzalimi. Allah mengangkat doa itu di atas awan dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit, dan Allah berfirman : ‘Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu, walaupun pada suatu saat nanti'” [HR. Ahmad] Dari hadits di atas, ada tiga golongan yang doanya tidak tertolak, mereka ialah: 1. Orang yang Berpuasa Seseorang yang berpuasa dengan niat karena Allah pasti akan menjalankan puasa tersebut dengan sungguh-sungguh. Puasa sendiri akan menjadikan seseorang itu menahan hawa nafsu, melemahkan sikap sombong dan tamak, serta membuat hatinya bersih dan jiwanya suci. Orang yang berpuasa juga akan lebih dekat dengan Allah. Karena ketakwaan itulah, doa orang yang berpuasa tidak akan tertolak. 2. Pemimpin yang Adil Doa dari pemimpin yang adil juga tidak akan tertolak. Seorang pemimpin adalah orang yang menjadi panutan, selain itu seorang pemimpin juga memiliki tanggungjawab yang besar dan kelak di akhirat ia akan dimintai pertanggungjawaban. Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang bisa menjadi panutan dan sekaligus dapat menempatkan segala sesuatu yang sesuai dengan proporsi agar dapat mengambil keputusan dengan baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kriteria pemimpin di dalam Alquran: “Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” [QS. Al-Anbiya’ ayat 73]. 3. Orang yang Teraniaya Doa dari orang yang teraniaya dan terdzalimi juga tidak akan tertolak. Allah akan mengabulkan doa-doa mereka yang terdzalimi, meskipun orang kafir sekalipun. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda: “Hendaklah kamu waspada terhadap doa orang yang dizalimi sekalipun dia adalah orang kafir. Maka sesungguhnya tidak ada penghalang diantaranya untuk diterima oleh Allah.” [HR Ahmad] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Allah tidak menyukai perkataan buruk, (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizhalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”. [QS. An-Nisa ayat 148] Rasul juga berpesan kepada sahabat untuk menjaga diri dari orang yang teraniaya. Dari Mu’az ra. berkata, aku diutus oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. lalu Beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi sesuatu kaum dari ahli kitab, maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka telah patuh untuk melakukan itu, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam setiap sehari semalam. Jika mereka telah patuh untuk melakukan itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, kemudian diberikan kepada yang miskin. Jika mereka telah patuh untuk melakukan itu, jauhilah harta mereka. Peliharalah diri kalian dari doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Allah”. [Muttafaq ‘alaih] Doa merupakan salah satu cara kita untuk memohon sesuatu kepada Allah. Doa juga merupakan penghubung, sarana untuk berhubungan dengan Allah. Allah menyeru kita untuk berdoa kepada-Nya. Dia menganjurkan kita agar memohon kepda-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [QS. Al-Araf ayat 55). Semoga doa kita semua tidak tertolak sehingga dimudahkan dapat berkumpul bersama di Jannah. Aamiin 🕋Barakallahufikum....
    17 2 Comments 1 Shares
  • 19 0 Comments 0 Shares
  • Bismillah

    10 Keutamaan Bulan Ramadhan

    Sebagaimana kita ketahui bersama
    Puasa ramadlan mengandung banyak keajaiban. Hal ini bukan hanya diakui oleh ulama-ulama Islam; tapi juga ilmuan-ilmuan Barat. Berikut ini, akan dipaparkan sepuluh keajaiban syariat puasa.

    Pertama, menurut Syeikh Ibnu Utsaimin dalam buku “Min Fataawaa al-Ulamaa fi al-Shiyaam wa al-Qiyaam wa Iid Syahr Ramadhan” (Musa Yunus, 1999: 23) puasa bisa membuat orang merasa sebagai satu entitas; mempererat jalinan hubungan antar individu masyarakat; dan bisa melatih jiwa untuk naik tingkat menuju kesempurnaannya.

    Kedua, menurut Syeikh Bin Baz dalam “Majmuu’ Fataawa wa Maqalaat Mutanawwi’ah-al-Shiyaam” (Ibnu Baz, 1420:XV/39-41), puasa bisa mensucikan, melatih dan membersihkan jiwa dari akhlak tercela serta membiasakannya melakukan akhlak mulia. Di samping itu, puasa membuat orang mengakui akan kelemahan dan kekuarangannya di hadapan Allah sehingga melahirkan rasa syukur dan kepedulian sosial dengan membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan.

    Ketiga, dalam buku “Kitaab al-Shiyaam” (1992: 9, 10) karya Abu Bakar Al-Faryabi, disebutkan bahwa puasa sebagai metode unik (satu-satunya) untuk menanamkan pada jiwa manusia akhlak mulia, menyulut gairah keislaman, membersihkannya diri dari berbagai macam kotoran, memutus rasa ragu, mendorong mukmin bersedekah dan berderma serta mendorong kerekatan hubungan antara si kaya dan si miskin.

    Keempat, berdampak baik secara medis atau kesehatan. Alexis Carrel (dokter peraih nobel bidang kesehatan pada tahun 1912) pernah meneliti bahwa puasa memiliki efek dahsyat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Buah dari penelitiannya tersebut ditulis dalam sebuah buku berjudul: “Man the Unknow” (“The Miracle of Fast” [Amirulloh, 2014: X])

    Berbagai hasil penelitian para pakar terhadap kedahsyatan puasa yang dikumpulkan Allan Cott, M.D. dalam sebuah buku yang berjudul “Why Fasty?” , menjadi menarik untuk dikemukakan di sini. Berdasarkan hasil penelitian yang dikumpulkannya, di antara kedahsyatan puasa sebagai berikut: menjadikan penglihatan terasa lebih muda atau lebih jelas; membersihkan badan dari berbagai penyakit; menurunkan tekanan darah tinggi dan kadar lemak; mampu mengendalikan nafsu; membuat badan sehat dengan sendirinya; dapat mengendorkan ketegangan jiwa; dapat menajamkan fungsi indrawi; dapat mengendalikan kemauan diri sendiri; serta bisa memperlambat proses penuaan.

    Kelima, membuat fisik dan psikis lebih baik. Menurut penelitian Allan Cott, M.D. (ahli Biologi asal Amerika, dalam buku “Why Fasty?”), puasa dapat membuat fisik dan psikis lebih baik (to feel better physically and mentally).

    Keenam, bisa membuat awet muda secara fisik mental dan spiritual. Berdasarkan penelitian Dr. Yuri Nikolayev (Direktur Rumah Sakit Jiwa Moskow) menyebutkan bahwa puasa bisa mernbuat tetap awet muda secara fisik, mental dan spiritual.

    Ketujuh, puasa menimbulkan dampak sangat positif sekalipun bagi para wanita. Menurut Alvenia M. Fulton (Direktur Lembaga Makanan Sehat “Fultonia” asal Amerika Serikat) bahwa puasa adalah cara terbaik untuk memperindah dan mempercantik wanita secara alami. Di samping itu, bisa menghasilkan kelembutan pesona dan daya pikat. Yang tak kalah penting, puasa sanggup menormalkan fungsi-fungsi kewanitaan dan membentuk kembali keindahan tubuh.

    Kedelapan, Puasa dapat meningkatkan kecerdasan emosional (emotional quotient). Berdasarkan catatan beliau, puasa menjadi media yang sangat tepat untuk melejitkan kecerdasan emosional seseorang. Di samping itu, puasa juga dapat memperkuat motivasi, mendorong kemauan, mengajarkan kesabaran, membantu menjernihkan pikiran, dan menglihami pendapat yang cerdas.

    Kesembilan, dapat meningkatkan kecerdasan spiritual. Haji Amirullah menandaskan bahwa orang yang berpuasa merniliki kesadaran spiritual yang tinggi. Sebab ibadah puasa yang dikerjakan bukan karena dorongan manusia, tetapi karena kesadaran internal batiniyahnya yang tinggi, berupa: dasar keikhlasan sebagai bentuk kesadaran yang sesuai naluri manusia.

    Kesepuluh, puasa dapat memupuk kepekaan sosial. Ibadah puasa ini bisa melahirkan kepedulian sosial yang tinggi. Saat umat Islam dilarang makan dan minum selama sehari penuh, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, mereka bisa merasakan rasanya lapar dan haus. Karena di luar sana banyak saudara-saudara yang kadang tidak makan sampai berhari-hari.

    Bila dari kesepuluh keajaiban tadi dirangkum, maka keajaiban ibadah ini meliputi masalah medical (medis), spiritual, sosial, psikis dan emosional. Dengan menjalankan ibadah puasa dilandasi iman dan mengharap ridha Allah –sebagaimana dalam hadits shahih- insya Allah keajaiban-keajaiban itu bisa terkuak dan dirasakan oleh setiap orang yang menjalankannya sehingga dimudahkan dapat berkumpul bersama di Jannah. Aamiin

    🕋Barakalllahufikum
    Bismillah 10 Keutamaan Bulan Ramadhan Sebagaimana kita ketahui bersama Puasa ramadlan mengandung banyak keajaiban. Hal ini bukan hanya diakui oleh ulama-ulama Islam; tapi juga ilmuan-ilmuan Barat. Berikut ini, akan dipaparkan sepuluh keajaiban syariat puasa. Pertama, menurut Syeikh Ibnu Utsaimin dalam buku “Min Fataawaa al-Ulamaa fi al-Shiyaam wa al-Qiyaam wa Iid Syahr Ramadhan” (Musa Yunus, 1999: 23) puasa bisa membuat orang merasa sebagai satu entitas; mempererat jalinan hubungan antar individu masyarakat; dan bisa melatih jiwa untuk naik tingkat menuju kesempurnaannya. Kedua, menurut Syeikh Bin Baz dalam “Majmuu’ Fataawa wa Maqalaat Mutanawwi’ah-al-Shiyaam” (Ibnu Baz, 1420:XV/39-41), puasa bisa mensucikan, melatih dan membersihkan jiwa dari akhlak tercela serta membiasakannya melakukan akhlak mulia. Di samping itu, puasa membuat orang mengakui akan kelemahan dan kekuarangannya di hadapan Allah sehingga melahirkan rasa syukur dan kepedulian sosial dengan membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan. Ketiga, dalam buku “Kitaab al-Shiyaam” (1992: 9, 10) karya Abu Bakar Al-Faryabi, disebutkan bahwa puasa sebagai metode unik (satu-satunya) untuk menanamkan pada jiwa manusia akhlak mulia, menyulut gairah keislaman, membersihkannya diri dari berbagai macam kotoran, memutus rasa ragu, mendorong mukmin bersedekah dan berderma serta mendorong kerekatan hubungan antara si kaya dan si miskin. Keempat, berdampak baik secara medis atau kesehatan. Alexis Carrel (dokter peraih nobel bidang kesehatan pada tahun 1912) pernah meneliti bahwa puasa memiliki efek dahsyat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Buah dari penelitiannya tersebut ditulis dalam sebuah buku berjudul: “Man the Unknow” (“The Miracle of Fast” [Amirulloh, 2014: X]) Berbagai hasil penelitian para pakar terhadap kedahsyatan puasa yang dikumpulkan Allan Cott, M.D. dalam sebuah buku yang berjudul “Why Fasty?” , menjadi menarik untuk dikemukakan di sini. Berdasarkan hasil penelitian yang dikumpulkannya, di antara kedahsyatan puasa sebagai berikut: menjadikan penglihatan terasa lebih muda atau lebih jelas; membersihkan badan dari berbagai penyakit; menurunkan tekanan darah tinggi dan kadar lemak; mampu mengendalikan nafsu; membuat badan sehat dengan sendirinya; dapat mengendorkan ketegangan jiwa; dapat menajamkan fungsi indrawi; dapat mengendalikan kemauan diri sendiri; serta bisa memperlambat proses penuaan. Kelima, membuat fisik dan psikis lebih baik. Menurut penelitian Allan Cott, M.D. (ahli Biologi asal Amerika, dalam buku “Why Fasty?”), puasa dapat membuat fisik dan psikis lebih baik (to feel better physically and mentally). Keenam, bisa membuat awet muda secara fisik mental dan spiritual. Berdasarkan penelitian Dr. Yuri Nikolayev (Direktur Rumah Sakit Jiwa Moskow) menyebutkan bahwa puasa bisa mernbuat tetap awet muda secara fisik, mental dan spiritual. Ketujuh, puasa menimbulkan dampak sangat positif sekalipun bagi para wanita. Menurut Alvenia M. Fulton (Direktur Lembaga Makanan Sehat “Fultonia” asal Amerika Serikat) bahwa puasa adalah cara terbaik untuk memperindah dan mempercantik wanita secara alami. Di samping itu, bisa menghasilkan kelembutan pesona dan daya pikat. Yang tak kalah penting, puasa sanggup menormalkan fungsi-fungsi kewanitaan dan membentuk kembali keindahan tubuh. Kedelapan, Puasa dapat meningkatkan kecerdasan emosional (emotional quotient). Berdasarkan catatan beliau, puasa menjadi media yang sangat tepat untuk melejitkan kecerdasan emosional seseorang. Di samping itu, puasa juga dapat memperkuat motivasi, mendorong kemauan, mengajarkan kesabaran, membantu menjernihkan pikiran, dan menglihami pendapat yang cerdas. Kesembilan, dapat meningkatkan kecerdasan spiritual. Haji Amirullah menandaskan bahwa orang yang berpuasa merniliki kesadaran spiritual yang tinggi. Sebab ibadah puasa yang dikerjakan bukan karena dorongan manusia, tetapi karena kesadaran internal batiniyahnya yang tinggi, berupa: dasar keikhlasan sebagai bentuk kesadaran yang sesuai naluri manusia. Kesepuluh, puasa dapat memupuk kepekaan sosial. Ibadah puasa ini bisa melahirkan kepedulian sosial yang tinggi. Saat umat Islam dilarang makan dan minum selama sehari penuh, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, mereka bisa merasakan rasanya lapar dan haus. Karena di luar sana banyak saudara-saudara yang kadang tidak makan sampai berhari-hari. Bila dari kesepuluh keajaiban tadi dirangkum, maka keajaiban ibadah ini meliputi masalah medical (medis), spiritual, sosial, psikis dan emosional. Dengan menjalankan ibadah puasa dilandasi iman dan mengharap ridha Allah –sebagaimana dalam hadits shahih- insya Allah keajaiban-keajaiban itu bisa terkuak dan dirasakan oleh setiap orang yang menjalankannya sehingga dimudahkan dapat berkumpul bersama di Jannah. Aamiin 🕋Barakalllahufikum
    19 0 Comments 1 Shares
  • Bismillah

    Puasa Diantara Jalan Mudah Menuju Surga

    عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَابِرْ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ . [رواه مسلم]

    Dari Abu Abdullah, Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiallahuanhuma : Seseorang bertanya kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata : Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, Menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram ) dan saya tidak tambah sedikitpun, apakah saya akan masuk surga ?. Beliau bersabda : Ya.."
    (Riwayat Muslim)

    Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

    1. Setiap muslim dituntut untuk bertanya kepada ulama tentang syariat Islam, tentang kewajibannya dan apa yang dihalalkan dan diharamkan baginya jika hal tersebut tidak diketahuinya.
    2. Penghalalan dan pengharaman merupan aturan syariat, tidak ada yang berhak menentukannya kecuali Allah ta’ala.
    3. Amal-amal saleh diantaranya, puasa romadhon merupakan sebab masuknya seseorang kedalam syurga.
    4. Dengan berpuasa Ramadhan, menjadikan seseorang dirindukan surga. Dari bekal puasa itu, telah menuntun manusia menjadi jujur, sabar, takwa, berjalan dijalur kebaikan. Dan jalur kebaikan itulah yang menuju ke Surga.
    5. Keinginan dan perhatian yang besar dari para shahabat serta kerinduan mereka terhadap syurga serta upaya mereka dalam mencari jalan untuk sampai kesana.

    Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran :

    1. Evaluasi diri / muhasabah

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

    _"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."_ (Al-Hasyr: 18)

    2. Rindu syurga

    وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

    _"Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir'aun, ketika ia berkata, "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim, "_
    (At-Tahrim:11)

    3. Memperhatikan halal haram dalam kehidupan

    قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

    _"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedangkan mereka dalam keadaan tunduk."_ (At-taubah:29)

    🕋Barakallahufikum...
    Bismillah Puasa Diantara Jalan Mudah Menuju Surga عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَابِرْ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ . [رواه مسلم] Dari Abu Abdullah, Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiallahuanhuma : Seseorang bertanya kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata : Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, berpuasa Ramadhan, Menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram ) dan saya tidak tambah sedikitpun, apakah saya akan masuk surga ?. Beliau bersabda : Ya.." (Riwayat Muslim) Pelajaran yang terdapat dalam hadits: 1. Setiap muslim dituntut untuk bertanya kepada ulama tentang syariat Islam, tentang kewajibannya dan apa yang dihalalkan dan diharamkan baginya jika hal tersebut tidak diketahuinya. 2. Penghalalan dan pengharaman merupan aturan syariat, tidak ada yang berhak menentukannya kecuali Allah ta’ala. 3. Amal-amal saleh diantaranya, puasa romadhon merupakan sebab masuknya seseorang kedalam syurga. 4. Dengan berpuasa Ramadhan, menjadikan seseorang dirindukan surga. Dari bekal puasa itu, telah menuntun manusia menjadi jujur, sabar, takwa, berjalan dijalur kebaikan. Dan jalur kebaikan itulah yang menuju ke Surga. 5. Keinginan dan perhatian yang besar dari para shahabat serta kerinduan mereka terhadap syurga serta upaya mereka dalam mencari jalan untuk sampai kesana. Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran : 1. Evaluasi diri / muhasabah يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ _"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."_ (Al-Hasyr: 18) 2. Rindu syurga وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ _"Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir'aun, ketika ia berkata, "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim, "_ (At-Tahrim:11) 3. Memperhatikan halal haram dalam kehidupan قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ _"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedangkan mereka dalam keadaan tunduk."_ (At-taubah:29) 🕋Barakallahufikum...
    23 1 Comments 4 Shares
  • Bismillah

    “Sesungguhnya Allah hanya akan menerima -amal- dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Ma’idah : 27)

    🕢Hari kedua Ramadhan sudah menyapa....
    🕋Keep hamasah.......
    Bismillah “Sesungguhnya Allah hanya akan menerima -amal- dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Ma’idah : 27) 🕢Hari kedua Ramadhan sudah menyapa.... 🕋Keep hamasah.......
    22 3 Comments 0 Shares
  • Bismillah....
    Agenda Hari Kamis sore pekan ini, ngisi Kajian di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Surakarta.

    🕋Menebar kebaikan dalam semangat dakwah penuh maslahah....
    Bismillah.... Agenda Hari Kamis sore pekan ini, ngisi Kajian di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Surakarta. 🕋Menebar kebaikan dalam semangat dakwah penuh maslahah....
    15 3 Comments 0 Shares
More Stories